Jumat, 13 Juni 2014

SISTEM PEREKONOMIAN DI MYANMAR




Myanmar menganut sistem ekonomi liberal. Ekonomi liberal adalah teori ekonomi yang diuraikan oleh tokoh-tokoh penemu ekonomi klasik sepertiAdam Smith atau French Physiocrats. Sistem ekonomi klasik tersebut mempunyai kaitannya dengan  "kebebasan (proses) alami" yang dipahami oleh sementara tokoh-tokoh ekonomi sebagai ekonomi liberal klasik. Meskipun demikian, Smith tidak pernah menggunakan penamaan paham tersebut sedangkan konsep kebijakan dari ekonomi (globalisasi) liberal ialah sistem ekonomi bergerak kearah menuju pasar bebas dan sistem ekonomi berpaham perdagangan bebas dalam era globalisasi yang bertujuan menghilangkan kebijakan ekonomi proteksionisme.

KEADAAN EKONOMI MYANMAR


Meskipun kaya sumber daya alam, ekonomi Myanmar sebagian besar telah mengalami stagnasi sejak tahun 1997 karena manajemen makroekonomi yang buruk, utang sektor publik yang besar, penurunan tajam dalam investasi asing, kebijakan isolasionis dan sanksi perdagangan. Pendapatan rendah, tinggi pengeluaran pertahanan (dianggap sebanyak 40%) dan kerugian berat oleh perusahaan negara telah menyebabkan defisit anggaran besar. Ukuran ekonomi hitam di Myanmar membatasi kemampuan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan pajak, dan penghindaran pajak meluas. Kurs manajemen yang miskin, dengan nilai tukar resmi kyat terlalu overvalue.

Meskipun liberalisasi awal 1990-an, sekarang ada hambatan yang signifikan untuk perusahaan swasta. Selain kebijakan ekonomi tidak jelas, inflasi, nilai tukar distorsi, korupsi, kontrol pada perdagangan, dan pengambilan keputusan dengan sewenang-wenang mereka yang berkuasa, krisis dalam investasi sektor perbankan swasta telah menghambat pertumbuhan sektor swasta dan putus asa dalam dan luar negeri. Singkatnya, Myanmar dianggap sebagai tujuan risiko tinggi untuk investasi luar negeri.

Gas alam adalah salah satu sumber terbesar Myanmar pendapatan ekspor hukum, terhitung sekitar 30 persen dari total ekspor, dengan pertumbuhan lebih lanjut diharapkan dan permintaan energi yang meningkat dari negara-negara tetangga, terutama India, Cina dan Thailand. Perkiraan Intelijen Ekonomi Satuan bahwa perekonomian akan tumbuh sekitar 2-3 persen pada 2008, inflasi akan terus meningkat, dan meskipun pertumbuhan lanjutan di sektor minyak dan gas, sisa ekonomi akan tetap lemah.


Masa depan ekonomi Myanmar cerah

Myanmar mengambil langkah-langkah untuk tumbuh dalam perekonomian global dengan mengekspor beras, tenaga hidroelektrik dan minyak bumi, serta memproduksi garmen - namun negara ini akan sukses jika meniru keberhasilan perekonomian Afrika yang berkembang, demikian menurut analis tentang perekonomian yang berkembang.

“Prospeknya tampak cerah, asalkan negara ini menjaga kestabilan politik. Mereka mengawali kembali dari titik paling rendah, tetapi kini tampak jelas bahwa mereka mulai bangkit," kata Martin Hutchinson, mantan bankir perdagangan dan analis ekonomi untuk Reuters Breakingviews, khusus mengenai negara-negara yang perekonomiannya berkembang.

“Penghasilan per kapita memang masih sangat rendah, hanya $800-$1.000 [USD] tetapi mereka memiliki sumber daya, dan sekarang mereka akhirnya membuka diri sehingga terdapat banyak perusahaan internasional yang tertarik untuk berinvestasi di sana," kata Hutchinson.

Menteri energi Myanmar mengatakan bahwa Exxon Mobil dan Oil India adalah di antara 59 perusahaan energi global yang merencanakan untuk berinvestasi dalam cadangan minyak dan gas alam di Myanmar – diperkirakan bernilai $75 miliar [USD].

Myanmar dulunya merupakan sumber minyak bumi yang terutama bagi Kerajaan Inggris, tetapi industri ini bisa dikatakan hampir mati di bawah penindasan kekuasaan militer selama setengah abad dan nyaris terisolasi secara total sejak awal tahun 1960-an.

Hanya dengan 60 juta orang dan area daratan terbesar di Asia Tenggara, Myanmar berpotensi memperoleh keuntungan dari negara tetangganya India dan China untuk kebutuhan bahan baku. Malaysia dan Thailand, rekan bangsa di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara [ASEAN], juga membutuhkan tenaga listrik yang dihasilkan di Myanmar.

Bloomberg juga melaporkan bahwa Woodside Petroleum, produsen minyak dan gas kedua terbesar di Australia, sedang menjajaki kemungkinan memperoleh cadangan di lepas pantai Myanmar.

“Kegiatan yang berpacu dengan waktu untuk mengembangkan sumber daya Myanmar telah dimulai,” kata Shihoko Goto, analis ekonomi Asia di Woodrow Wilson Center, di Washington, D.C. “Kegiatan ini dipimpin oleh perusahaan-perusahaan Jepang dan Korea Selatan, tetapi negara macan Asia lainnya, – Thailand, Taiwan dan Malaysia – juga sudah terlibat secara sangat aktif.”

Myanmar memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan produksi berasnya. Pertama, untuk menyediakan pangan bagi rakyatnya sendiri, kedua untuk menghasilkan kemakmuran dalam bidang pertanian pokok yang selalu merupakan prasyarat sangat penting bagi pengembangan industri, dan ketiga untuk mengekspor surplus panen ke China dan India.

Khususnya China yang tengah mencari tambahan impor pangan dari Asia Tenggara dan sub-Sahara Afrika sebagai pelindung terhadap tahun-tahun kemarau yang makin meningkat, yang disebabkan oleh pemanasan global. Dalam dua dari tiga tahun terakhir, panen China telah turun secara drastis akibat gelombang panas dan kemarau yang disebabkannya. Pasukan cadangan China telah dimobilisasikan untuk membantu para petani mengatasi kondisi kekeringan tersebut.

Kuncinya adalah pasar telepon seluler yang belum tersentuh
Hutchinson mengatakan bahwa pemerintah Myanmar dan para pakar ekonominya harus meneliti sejumlah contoh pertumbuhan yang berhasil di sub-Sahara Afrika selama 20 tahun terakhir.

“Pertama-tama mereka harus mendorong pasar telepon seluler yang terbuka,” kata Hutchinson. "Perkembangan akan terjadi jauh lebih cepat, berhasil dan menyeluruh apabila komunitas bisnis di seluruh negeri dihubungkan melalui komunikasi langsung, dan apabila daerah-daerah terpencil di negeri ini secara cepat terintegrasi ke dalam perekonomian nasional.”

Ini khususnya penting di Myanmar, karena tidak ada sistem jalan dan transportasi kereta api nasional yang layak, dan tidak pula tersedia infrastruktur telekomunikasi yang modern, katanya.

Dari India ke Meksiko, "pertumbuhan pasar telepon seluler swasta yang pesat telah secara dramatis menstimulasi bisnis dan menciptakan generasi pertama wirausahawan yang berhasil, yang kemudian menanamkan perolehannya dalam sektor ekonomi lainnya," kata Hutchinson. Upaya-upaya itu membantu menghadirkan kedamaian dan kemakmuran serta mendukung kebebasan melalui komunikasi.

“Yang paling dibutuhkan Myanmar adalah memiliki Carlos Slim-nya sendiri," kata Hutchinson, yang merujuk ke milyarder komunikasi, investor dan dermawan asal Meksiko. "Jika bisa memasarkan cukup banyak ponsel di tangan para wirausahawan, dan komunitas bisnis umum, Anda akan memiliki efek stimulus pertumbuhan yang sangat besar. Di Afrika, bisnis telepon seluler merupakan cara wirausahawan setempat menghasilkan banyak uang yang kemudian mereka tanamkan ke dalam investasi lainnya yang produktif.”

Pemerintah Myanmar mengumumkan pada 27 Juni lalu, dua pemenang tender proyek telekomunikasi. Telenor Mobile Communications dari Norwegia dan Ooredoo dari Qatar memenangkan konsesi selama 15 tahun untuk jaringan telepon seluler.

Prospek bagi investasi asing secara langsung
Dalam kebijakan makro-ekonomi umum, Presiden Myanmar, Thein Sein , “tampaknya melakukan semua hal yang tepat” untuk menarik investasi asing secara langsung [FDI], kata Hutchinson. "Laju pertumbuhannya masih rendah, sekitar 1 persen. Tetapi kini sudah bangkit dan karena landasan pertumbuhannya begitu rendah, sehingga pertumbuhan paling bersahaja sekalipun pada awalnya akan memiliki dampak sangat positif pada standar kehidupan.”

Pada awal Juni, McKinsey Global Institute mengeluarkan laporan baru yang memprediksikan bahwa Myanmar akan membutuhkan $320 miliar dalam investasi selama 17 tahun ke depan untuk mempertahankan laju pertumbuhan tahunan sebanyak 8 persen.

“Jika terkelola dengan baik, [Myanmar] dapat memperbesar perekonomiannya sebanyak empat kali lipat, dari $45 miliar [USD] pada tahun 2010 menjadi $200 miliar [USD] pada tahun 2030, menciptakan kenaikan 10 juta peluang kerja di bidang non-pertanian dalam prosesnya,” demikian menurut laporan.

Laporan ini menggambarkan Myanmar sebagai “perekonomian terbelakang dengan banyak keuntungan di pusat kawasan dunia yang paling cepat berkembang.”
“Bangsa Asia ini memiliki sumber daya yang melimpah dan dekat dengan pasar yang berisi setengah milyar konsumen,” demikian menurut laporan.

Bank Dunia juga merasa optimis. Laporan bulan April memberitakan bahwa Myanmar adalah "negara terbesar di daratan Asia Tenggara" dan "salah satu wilayah dengan penduduk paling sedikit, memiliki lahan yang subur, potensi pertanian yang hampir tidak terjamah, dan anugerah kekayaan sumber daya alam.”

“Pangsa utama PDB [Myanmar] [43 persen] berasal dari pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan. Sektor ini menghasilkan sekitar 54 persen lapangan kerja dan menyediakan mata pencaharian untuk lebih dari 70 persen penduduk," demikian menurut laporan.

Masalah infrastruktur; sumber daya alam yang melimpah
Bank Dunia mencermati bahwa Myanmar "pernah menjadi negara pengekspor beras teratas di dunia" namun selama beberapa puluh tahun terakhir, ekspor berasnya hanya "secuil pangsa pasar dunia.”

Myanmar jelas membutuhkan pertumbuhan secara mendesak. Bank Dunia melaporkan bahwa jumlah kemiskinannya adalah 26 persen. "Kebanyakan indikator sosial menunjukkan angka yang sangat rendah. Contohnya, 32 persen balita menderita busung lapar. Infrastruktur yang buruk dengan akses terbatas merupakan penghalang utama dalam menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan pokok serta menghambat perkembangan ekonomi," demikian yang dilaporkan.

“Hampir separuh jalan tidak dapat dilalui selama musim hujan. … Sekitar 75 persen penduduk tidak memiliki listrik, dan pemakaian listrik merupakan salah satu yang terendah di dunia – 20 kali lipat lebih sedikit daripada angka rata-rata dunia. Infrastruktur listrik yang ada hanya dapat memenuhi sekitar separuh permintaan saat ini, menyebabkan seringnya terjadi pemadaman listrik dan penjatahan pasokan listrik. Akses ke air minum juga sangat terbatas di banyak daerah," demikian yang diberitakan.

Namun, Myanmar secara potensial memiliki tenaga hidroelektrik yang sangat kaya, dan dengan investasi asing yang memadai, negara ini dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengekspor surplus listrik ke negara sekitarnya yang memiliki perekonomian industri yang amat membutuhkan tenaga listrik. Negara ini juga berpotensi menyediakan rute untuk jalinan pipa melalui daratan untuk memintas kemacetan di Selat Malaka.

Myanmar juga sangat kaya dengan sumber daya alam, seperti kayu, timah, timah sari, perunggu, antimon, tungsten, timbel dan batu bara. The Economist menyatakan dalam terbitannya tanggal 15 Juni, “Negara ini memiliki industri ekspor garmen yang menjanjikan pada awal tahun 1990-an. … Ini dapat dibangun kembali tanpa mendera tenaga kerja.”

Berkat kampanye penjangkauan dunia Thein Sein yang bersejarah, masa depan Myanmar tampak lebih cerah daripada sebelumnya, sejak memperoleh kemerdekaannya 66 tahun lalu.

“Mereka sudah melakukan sebagian besar hal yang tepat," kata Hutchinson. “Yang perlu mereka lakukan hanyalah menghindari kesalahan.”

 

 

 

Source:

Wikipedia, Google, http://apdforum.com/id/article/rmiap/articles/online/features/2013/07/16/burma-economy-future



Tidak ada komentar:

Posting Komentar